Rabu, 28 Desember 2016

BERANTAS BUTA HURUF AL-QUR'AN LEWAT METODE RUBAIYAT

TIDAK TAKUT SALAH, TIDAK TAKUT MALU, LANSIA BISA BACA QUR'AN

FOTO BERSAMA: Drs. H. Zulmardi, M.Ag., berfoto bersama dengan peserta pelatihan baca tulis al-Qur'an dengan metode Rubaiyat. (Foto: Hebby)

LPPM – Sijunjung.  Dalam pandangan Islam, pendidikan wajib dilaksanakan sepanjang hayat, sehingga kehidupan bagi seorang muslim adalah proses dan sekaligus lingkungan pembelajaran, termasuk belajar Al-Qur’an, yang tidak pandang usia. Asalkan ada kemauan, pasti ada jalan. Allah Ta’ala akan memudahkan perjalanan hamba-Nya mendekat kepada-Nya dengan membaca firman-firman-Nya yang mulia. 
Salah satu program pengabdian masyarakat melalui Lembaga Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar, adalah Program Pemberantasan Buta Huruf al-Qur’an dengan Metode Rubaiyat. Program metode Rubaiyat ini dibimbing oleh Drs. H. Zulmardi, M.Ag., dibantu Hebby Rahmatul Utamy, M.Sy., bertempat di Nagari Tanjung Bonai Aur, Kec. Sumpur Kudus, Sabtu (24/12/16).
Kedatangan rombongan dari kampus IAIN Batusangkar pada jam 09.50 di Nagari Tanjung Bonai Aur (TBA), disambut langsung oleh Walinagari TBA, Bapak Adam dan staf nagari serta empat orang ibu-ibu yang akan mengikuti pelatihan metode Rubaiyat. Kehadiran peserta memang lewat dari waktu yang disepakati, berhubung pada hari yang sama juga bertepatan dengan hari balai (pasar tradisional yang berlangsung satu kali dalam seminggu) dan juga pembagian rapor hasil belajar anak di sekolah, sehingga beberapa ibu ada di sekolah dan di pasar.
Jam 11.00 acara dimulai, saat itu sudah hadir 14 orang peserta. Acarapun dimulai, diawali dengan arahan dari Walinagari dan diteruskan dengan perkenalan oleh Drs. H. Zulmardi, M.Ag., serta penjelasan singkat tentang metode Rubaiyat. “Meski rata-rata di usia 60-an tahun, ibu-ibu yang memiliki tekat, semangat dan niat yang kuat untuk bisa membaca Al-Qur’an, Allah akan bukakan jalan kemudahan” ungkap Adam penuh harap saat memberi arahan.

Salah seorang peserta saat mengikuti pre-test baca al-qur'an. (Foto: Hebby)

Pemutaran beberapa video tahfiz cilik dari tanah Arab, untuk menumbuhkan motifasi dan semangat belajar bagi ibu-ibu, kemudian menampilkan beberapa bahan untuk lebih mengarahkan pelaksanaan metode ini. Menurut Zulmardi, tidak perlu takut atau malu dalam belajar. Apalagi ini adalah sebagai tabungan untuk akhirat kelak. Usai pemutaran video, acara dilanjutkan dengan tes baca Al-Qur’an kepada masing-masing peserta, sebagai pengukur sejauh mana kemampuan masyarakat (peserta) dalam membaca Al-Qur’an, sebelum tahap pelatihan dimulai.

Kendala umum yang ditemui saat tes baca dilakukan adalah karena sudah semakin berkurangnya penglihatan sehingga mempengaruhi kemampuan untuk membaca, dan ada beberapa ibu yang memang hamper tidak pernah ikut belajar mengaji sewaktu mudanya dulu. Dari penilaian awal inilah nantinya akan ditentukan bagaimana pelatihan berlangsung. Pelatihan ini direncanakan berjalan minimal empat kali pertemuan, namun jika seandainya masih dirasa belum cukup, akan ditambah nantinya. (HRU)
Share: