Rabu, 28 Februari 2018

RIBUAN CALON PESERTA KKN ANGKATAN III IAIN BATUSANGKAR TAHUN 2018 IKUTI WAWANCARA POTENSI


Sekitar 1.300 orang mahasiswa IAIN Batusangkar diprogramkan mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) angkatan III tahun 2018. Hingga berita ini diturunkan, sebanyak 935 orang dari jumlah tersebut telah mendaftar secara online via e-campus IAIN Batusangkar. Pendaftaran yang akan ditutup tanggal 28 Februari 2018 ini hanya bisa diikuti oleh mahasiswa mahasiswa semester VI ke atas yang memiliki IPK minimal 2,25. Saat mendaftar, calon peserta diharuskan untuk mengunggah soft copy pas photo terbaru ukuran 3x4 cm, scan asli KTP, scan asli tranksrip nilai dan scan asli sertifikat kelulusan materi Praktek Pengamalan Ibadah (PPI).
Setelah pendaftaran berstatus diterima, calon peserta diharuskan mengikuti wawancara potensi untuk pembagian kelompok dan penempatan lokasi. Kegiatan ini dilaksanakan mulai tanggal 05 Februari s.d 12 Maret 2018. Pada wawancara ini akan digali kemampuan peserta yang bisa dimanfaatkan saat KKN nanti. Seperti yang dikatakan oleh Nadya Ulfa, mahasiswa jurusan Akuntansi Syariah. Ada beberapa pertanyaan yang diajukan. Mulai dari nomor HP mahasiswa dan orang tua yang aktif, pernah atau tidak menjadi imam di Masjid/Mushalla, bisa mengaji irama (tilawah) atau tidak, keahlian apa saja yang dimiliki hingga punya pacar atau tidak. Awalnya Ulfa merasa sangat grogi dan cemas, namun semua perasaan tersebut hilang karena pertanyaan yang diberikan tidak sulit untuk dijawab. Ulfa menyadari bahwa wawancara ini dilakukan agar masing-masing kelompok memiliki orang yang bisa jadi imam, bisa mengaji irama, bisa ceramah atau bisa jadi khatib. Jadi, “kelompok tersebut gak malu-maluin”, ujarnya sambil tertawa.
Hingga saat ini, wawancara ini telah diikuti oleh sekitar 250 orang. Artinya, sekitar 80% calon peserta belum mengikuti wawancara. Drs. Afwadi, M.Si, selaku ketua BP-KKN memprediksi bahwa calon peserta akan membludak pada hari-hari terakhir proses wawancara seperti yang terjadi tahun sebelumnya. Kecenderungan mahasiswa yang suka mengulur-ngulur waktu sementara tenaga pewawancara yang terbatas dan tidak hanya concern untuk mewawancara saja karena mesti mengerjakan tugas pokoknya membuat detik-detik terakhir wawancara terasa berat. Padahal panitia jauh-jauh hari telah membuka kesempatan demi menghindari penumpukan calon peserta. Sayang, usaha tersebut sepertinya belum membuahkan hasil yang menggembirakan. 
Yusrizal Effendi, M.Ag, Ketua LPPM mengatakan bahwa wawancara ini sangat penting untuk diikuti. Argumennya, proses wawancara dapat menjaring potensi-potensi apa saja yang dimiliki oleh calon peserta. Misalnya ada peserta yang memiliki potensi menjadi imam, da’i/da’iyah, qori/qori’ah dan segenap potensi lainnya yang bisa dimanfaatkan ketika peserta berada di lokasi KKN. Mengingat sebuah kelompok mahasiswa KKN mesti mengakomodir perimbangan potensi personal mahasiswa dari sisi gender, bidang ilmu jurusan/ fakultas dan kemampuan lapangan lainnya. Potensi tersebut kemudian dipetakan lalu dimanfaatkan untuk didistribusikan dalam pembagian kelompok dan penempatan lokasi KKN. Strategi ini diterapkan agar terbentuk kelompok yang solid dan mampu bekerja sama untuk memberdayakan masyarakat. (FN)

Share: