Jumat, 17 Desember 2021

DUKUNG PROGRAM KEGIATAN MELALUI KERJASAMA PSGA IAIN BATUSANGKAR DENGAN IAIN MANADO






Batusangkar. 17/12/2021 Pusat studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Batusangkar melakukan perjanjian kerjasama dengan PSGA IAIN Manado, kegiatan ini merupakan bagian dari tindak lanjut dari Memorandum of understanding antara IAIN Batusangkar dengan IAIN Manado. Kegiatan yang dilaksanakan oleh PSGA ini di hadiri oleh Rektor beserta jajarannya.




Ruang lingkup kerjasama ini mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut: Kolaborasi webinar berbasis gender, anak dan kekerasan seksual pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam;Publikasi artikel kolaboratif berbasis gender untuk Jurnal PSGA;Sharing pembuatan buku Profil Pusat Studi Gender dan Anak.
 
Pembinaan Teknis Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dengan fokus meliputi (1) pengarusutamaan gender dan perencanaan dan penganggaran yang responsif gender 
(2) pendataan dan manajemen kasus kekerasan, 
(3) konvensi hak anak, 

Penelitian dan Pengembangan Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan fokus meliputi 
(1) kajian penanggulangan kemiskinan yang berperspektif gender, 
(2) kajian pembangunan keluarga, 
(3) Kajian Peran Kelembagaan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 

Evaluasi perencanaan dan penganggaran yang berbasis gender (responsive gender) dengan sasaran meyakinkan perencanaan dan penganggaran daerah telah memperhatikan gender; Sharing kegiatan-kegiatan Laktasi dan fasilitas bermain anak; 

Kerjasama antara PIHAK I dan PIHAK II bertujuan untuk saling memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada pada masing-masing Pihak untuk saling mengembangkan program berbasis gender dan anak yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Hal-hal yang belum diatur dalam perjanjian ini akan diatur lebih lanjut dalam perjanjian tambahan dan atau surat-menyurat guna meningkatkan kapasitas dan kualitas kegiatan pada studi gender dan anak .(RM) 


Share:

Selasa, 20 April 2021

Webinar Nasional Dampak Undang-Undang Cipta Kerja Terhadap Buruh Perempuan di Indonesia

 

Batusangkar, 20/04/2021. Berdekatan dengan hari Kartini 21 April 2021, Pusat Studi Gender dan Anak pada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat menggelar Webinar Nasional Dampak Undang-Undang Cipta Kerja Terhadap Buruh Perempuan di Indonesia pada tanggal 19-20 April 2021. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka meneruskan perjuangan Raden Adjeng (RA) Kartini di masa lalu yaitu agar perempuan mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki dalam mendapatkan pendidikan dan kesempatan untuk berkarir. Acara ini dibuka langsung oleh Rektor IAIN Batusangkar Dr. Marjoni Imamora., M.Sc, dalam sambutannya Marjoni menyampaikan bahwa UU Cipta Kerja ini menuai banyak benturan di berbagai pihak, oleh karena itu kita sebagai bagian dari Civitas Akademika harus bisa mengikuti kegiatan ini secara serius agar bisa mengedukasi dan memberikan pemahaman orang-orang terdekat dan keluarga tentang dampak Undang-Undang Cipta Kerja terhadap buruh di Indonesia, khususnya buruh perempuan.


Acara yang menghadirkan narasumber Dr. Nihayatul Wafiroh Wakil Komisi 9 DPR RI dan Tiasri Wiandani, SE.,SH Anggota Komisi Nasional Perempuan ini berlangsung selama 2 hari diikuti oleh 60 peserta . Menurut Nihayatul, ada 3 pandangan umum FPKB DPR RI terhadap Ruu Cipta Kerja Klaster ketenagakerjaan (Sebelum menjadi uu) yakni; Penguatan perlindungan kepada tenaga kerja & meningkatkan pekerja/buruh & keluarganya, Syarat–syarat kerja& perlindungan tenaga kerja yang relevan dengan isu kesejahteraan pekerja/buruh& keluarganya, Mendukung ekosistem investasi yang sejalan dengan peningkatan kesejahteraan & perlindungan pekerja/buruh. CiptaKerja adalah upaya penciptaan kerja melalui usaha kemudahan, perlindungan , dan pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah, peningkatan ekosistem investasi dan kemudahan berusaha, dan investasi Pemerintah Pusat dan percepatan proyek strategis nasional. Sementara Tiasri dalam Paparannya disebutkan tantangan yang dihadapi Perempuan kerja sampai saat ini, yakni: Perempuan pekerja masih berhadapan dengan diskriminasi dan kekerasan berbasis gender di tempat kerja, Perlindungan Hak Maternitas perempuan pekerja masih terabaikan, Kekerasan dan diskriminasi juga dihadapi oleh pekerja sektor informal dan padat karya yang banyak diampu oleh perempuan.


Tiasri merekomendasikan 5 poin dalam kegiatan tersebut yakni : DPR RI dan Pemerintah untuk meninjau ulang dan mengkoreksi potensi UU Cipta Kerja mengurangi daya pelaksanaan tanggungjawab negara dalam pemenuhan hak hak konstitusional terutama untuk mengatasi kerentanan perempuan pekerja dari eksploitasi diskriminasi dan kekerasan; Pemerintah agar tidak tergesa gesa dalam menyusun dan mengesahkan Rancangan Peraturan Pemerintah ( sebagai peraturan pelaksanaan bagi UU Cipta Kerja mengingat Pasal Pasal yang terkandung memiliki potensi menurunkan standard perlindungan dan kerja layak bagi pekerja khususnya perempuan pekerja; DPR dan Pemerintah untuk lebih peka terhadap kepentingan dan kesentosaan perempuan pekerja dengan segera membahas dan mengesahkan UU yang secara nyata terkait dengan hal tersebut antara lain RUU Pelindungan Pekerja Rumah Tangga dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, Akademisi dan kelompok masyarakat sipil menempuh dan mendukung langkah konstitusional baik dengan mendorong legislative, executive maupun judicial review dalam mengupaya pengujian UU Cipta Kerja serta membangun pendidikan kritis pada warga mengenai persoalan di dalam UU Cipta Kerja; Pemerintah DPR RI, Akademisi pengusaha atau pihak swasta lainnya serta masyarakat sipil bergotong royong dan dengan semangat kosntruktif mengupayakan penciptaan dan perluasan lapangan kerja yang juga saat bersamaan menguatkan pelindungan bagi pekerja dengan perhatian pada kerentanan khusus perempuan pekerja termasuk melalui penguatan kewirausahaan perempuan dalam kerangka pemberdayaan ekonomi. (RM)




Share:

Selasa, 06 April 2021

WORKSHOP PENULISAN ARTIKEL BERBASIS GENDER UNTUK JURNAL BEREPUTASI






Batusangkar, 06/04/2021. Pusat Studi Gender dan Anak LP2M IAIN Batusangkar menggelar Workshop Penulisan Artikel berbasis Gender untuk Jurnal Bereputasi. Kegiatan ini di dasari keterbatasan baik segi kuantitas maupun kualitas artikel berbasis gender pada Jurnal Agenda di IAIN Batusangkar, hal ini disebabkan kurangnya pemahaman penulis terhadap perspektif Gender. Acara ini menghadirkan narasumber Prof. Dr. Irwan Abdullah dan Prof. Dr. Wening Udasmoro yang sama-sama berasal dari Universitas Gadjah Mada dan merupakan penulis yang aktif menulis dibidang gender dan anak. Acara yang dihadiri ratusan peserta ini di buka oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kelembagaan Dr. Ridwal Trisoni., S.Ag., M. Pd dan mendapat dukungan penuh dari Rektor IAIN Batusangkar.



Kegiatan ini dibanjiri peminat dan pertanyaan dari para partisipan salah satunya pada bidang pengabdian kepada masyarakat yang berbasis gender. Menurut Irwan, sebagai wujud dari support system sebaiknya pengabdian masyarakat harus terintegrasi dalam komunitas, harus ada lokal point ‘perempuan’ yang menjamin hak-hak perempuan dalam suatu daerah yang berpihak kepada perempuan dan anak. Masyarakat harus tau resiko-resiko yang terjadi dalam usia pernikahan dini dari laki-laki, contoh penelantaran terhadap istri dan tidak menafkahi. Pihak Kampus bisa memberdayakan dengan membackup perempuan /anak di suatu Nagari sehingga bisa menjadikan mahasiswa yang KKN menjadi sosok yang bisa dicontoh dan bisa mengubah mindset dan bisa menjamin hak- hak perempuan dan anak di daerah. Output dari kegiatan ini tidak hanya laporan, namun juga dapat dituangkan ke dalam artikel yang bisa di muat ke berbagai jurnal yang bereputasi. Selain itu, trik yang bisa digunakan untuk menembus jurnal bereputasi adalah membuat tulisan yang di tulis oleh banyak orang, sehingga ada banyak argumen dalam tulisan tersebut dengan literatur review diambil dari google scholar dan jurnal. Data wawancara dimasukkan dengan cara di kutip, bahasa dalam tulisan di muat dengan bahasa yang mudah dan jelas di pahami dengan tujuan supaya ide yang disampaikan tercapai, bahasa tulisan khusus bahasa indonesia yang baik dan benar sebelum di serahkan ke penerjemah. Sedangkan menurut Wening, Dinamika perspektif gender ini berkaitan dengan dinamika arus pemikiran sosial dan humaniora secara umum, jadi tulisan berbasis gender Ini dipraktikkan di berbagai studi yakni : sosiologi, antropologi, psikologi, politik, kajian konflik, ekofeminisme.



Disamping itu wening juga menjelaskan metode yang bisa digunakan untuk penelitian berbasis gender, namun sebelum metode digunakan hendaknya penulis melihat terlebih dahulu apa yang menjadi konfilk di masyarakat, apakah benar perempuan atau kah laki-laki, karena tidak semua tulisan berbasis gender ini muatannya hanya perempuan, subjektifitas juga di perlukan sebagai pemosisian kepada kaum yang termarjinal, karena kaum yang termajinal tidak memiliki sosial kapital dalam mempertahanankan pendapat.

Hasil kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan artikel yang mengutamakan analisis gender dan metodologi feminisme dengan irisan kajian lain seperti Isu-isu marjinal, Perdagangan manusia, LGBT, Kekerasan Seksual, dan Pernikahan Dini. Ada banyak jurnal yang terindeks scopus Q4 yang bisa submit oleh penulis diantaranya Masculinities and Social Change, Cahlers du Genre, Journal of Women, Politics and Policy, ujar Irwan. (RM)


Share:

Selasa, 30 Maret 2021

WORKSHOP PERUMUSAN PEDOMAN PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL DI IAIN BATUSANGKAR


Batusangkar, 30 Maret 2021. Pusat Studi Gender dan Anak pada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat IAIN Batusangkar menggagas kegiatan Workshop Perumusan Pedoman Pencegahan Kekerasan Seksual di IAIN Batusangkar pada Tanggal 29 sampai 30 Maret 2021. Acara ini dihadiri oleh Civitas Akademika IAIN Batusangkar. Kepala Pusat Studi Gender dan Anak Elfi., M.,Pd, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Workshop Perumusan Pedoman Pencegahan Kekerasan Seksual ini merupakan tindak lanjut dari SK Rektor terkait dengan pencegahan dan penanggulangan kekerasan seksual di IAIN Batusangkar yang hasilnya akan didirikan Unit Layanan Terpadu untuk mengatasi dan mencegah Kekerasan Seksual di lingkungan IAIN Batusangkar. Acara ini dibuka langsung oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Dr. H. Muhammad Fazis, yang dalam sesi pembukaan tersebut disampaikan bahwa kegiatan ini mendapat apresiasi oleh Rektor IAIN Batusangkar, diharapkan kegiatan ini dapat menghasilkan guide line atau SOP dalam mencegah dan menanggulangi Kekerasan Seksual di IAIN Batusangkar. 


Kegiatan ini mengundang Dr. dr. Retty Ratnawati dan Dr. Sri Wiyanti Eddyono sebagai narasumber yang keduanya merupakan pakar di bidang Hukum dan Perempuan. Dalam paparannya, tercatat sebanyak 2,398 orang perempuan yang mengadukan kepada KOMNAS Perempuan di tahun 2020 merupakan angka tertinggi dibandingkan 5 tahun sebelumnya. Berdasarkan data kekerasan seksual di Perguruan Tinggi di informasikan di tahun 2019 tercatat 179 Anggota Sivitas Akademika Perguruan Tinggi yang tersebar di 29 Kota di Indonesia pernah mengalami kekerasan seksual, namun banyak korban yang memilih diam karena diancam, merasa malu dan takut, bahkan sering kali kekerasan seksual ini dihubungkan dengan ‘aib’ dan atas nama baik sehingga permasalahan ini jarang muncul di permukaan. 



Pada kegiatan ini ada beberapa hal yang direkomendasi Narasumber bagi seluruh Perguruan Tinggi yakni : 1. Kampus harus melakukan pemulihan korban secara psikologis, hukum, medis dan agama; 2. Kampus harus mempunyai aturan yang sistemik terkait PPKS; 3. Kampus harus menciptakan budaya anti kekerasan; 4. Kampus memberikan Penindakan terhadap Pelaku dan dapat bekerja sama dengan lembaga yang ada; 5. Perlu dilakukan pemantauan dan Evaluasi Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan Seksual di masing-masing Perguruan Tinggi. (RM)
Share: