Jumat, 01 Juli 2022

Pusat Studi Gender dan Anak dukung Pemerintahan Nagari melalui Workshop Pencegahan Kekerasan Seksual dengan Partisipasi Nagari







Batusangkar Senin, 30/05-2022. Sebagai Wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi, Pusat Studi Gender dan Anak UIN Mahmud Yunus Batusangkar mencegah Kekerasan Seksual melalui workshop dengan partisipasi Nagari. Perempuan Menjadi Subjek Yang Rentan Kekerasan Seksual, Karena Perempuan Seringkali direduksi Menjadi Objek Seksual Oleh Kaum Laki-laki, Untuk Menjawab Tantangan ini, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar Melalui Pusat Studi Gender dan Anak, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM).
Hadirkan Komisioner Komnas Perempuan RI. Bapak KH. Dr. Nahe’i, MH. Dalam Workshop Pencegahan dan Penangulangan Kekerasan Seksual, Melalui Peningkatan Partisipasi Nagari, Pemilik Kos-kosan dan Mahasiswa di lingkungan UIN Mahmud Yunus Batusangkar.




Banyak Kasus kekerasan seksual juga terjadi di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, namun kasus tersebut tidak muncul ke permukaan karna dianggap itu adalah aib kampus. Phenomena ini seperti seperti phenomena gunung es tidak Nampak di permukaan, namun banyak kasus terjadi tanpa diketahui oleh pihak kampus, sehingga ketika ada kasus terungkap ke media, pihak kampus terkaget kaget, seperti, mahasiswi yang hamil ketika KKN, terjadinya penggerebekan di kos-kosan atau kasus LGBT, mahasiswa yang hamil diluar nikah yang mana korban dalam hal ini perempuan bisa saja mengalami kekerasan seksual sebelum akhirnya hamil diluar nikah. Atau adanya mahasiswa korban dari temannya yg LGBT, karena dia mengalami kekerasan seksual seperti sodomi, dan kemudian menjadi LGBT dan pelaku sodomi itu sendiri. Indikasi-indikasi kekerasan tersebut bisa dilihat dari media sosial mahasiswa pelaku LGBT. Walaupun isi-isu tersebut belum bisa dibuktikan secara hukum karena kampus malu mengungkap dengan alasan nama baik kampus.

Maka atas dukungan Rektor UIN Mahmud Yunus Batusangkar, melalui kegiatan workshop yang diadakan Pusat Studi gender dan Anak LPPM UIN Mahmud Yunus Batusangkar, diharapkan dapat meminimalisir terjadinya kekerasan seksual di Perguruan Tinggi. (DN/RM)

Share: